Senin, 02 Januari 2017

ASA TAHUN 2017

Pendidikan Indonesia di pengujung tahun 2016 terbelah. Kementerian Pendidikan terbelit dilema, antara melakukan Ujian Nasional atau tidak. Kajian dan ulasan mengemuka, antara yang pro dan yang kontra. Menguras waktu dan pikiran bagi yang mau berpikir. Wapres JK termasuk yang emoh berpikir lagi. Ujian Nasional harus dilaksanakan. Menteri berhenti memikirkan alasan apa lagi untuk mengubur hidup-hidup sang Ujian Nasional. Perintah telah turun. Secara santai beberapa orang berkata : ya ujian saja, anak sekolah memang hadir untuk diuji kok. Bukan ujiannya yang salah, tetapi kecurangannya yang mesti diperbaiki. Wapres benar, kalau tidak ada ujian, anak sekolah mau apa? Seantero dunia juga tahu, bahwa semakin berat ujiannya, maka semakin bagus hasil yang akan didapatkan. Terlepas dari komentar para tokoh nasional tersebut.Mari kita perhatikan beberapa hal yang mendasari pembuagnan Ujian Nasional 1. Menjadi momok bagi siswa. Lah kok jadi momok? oh pasti untuk siswa yang malas belajar dan tidak punya semangat juang yag tinggi. 2. Soalnya susah. Bisa jadi kalau tidak pernah buka soal-soal dan tidak menguasai materi. Tapipun begitu akan menjadi saran yang bagus mungkin kalau soal sudah ditebar 3 bulan sebelumnya. siswa mempelajarinya, baru diulangkan. Vis.... 3. Waktunya yang singkat. ah...waktu yang kurang atau memang tidak tahu biar sampe malam? hehe.. 4. Takut tidak lulus...sudah diberitahu bahwa Ujian Nasionall bukan lagi penentu kelulusan...jadi yah tidak usah takut....harusnya takut kalau terpampang di Ijazah atau SKHU nilai-nilai yang menyilaukan mata....lah itu yang menakutkan karena bisa dibully sampai anak cucu. ternyata untuk semua alasan yang terpapar diatas, intinya adalah siswa tidak mau lagi repot-repot belajar. Waduh, generasi instan.... iya, inilah sebenarnya yang terjadi. Setiap kita sedang berhadapan dengan siswa yang lahir dari generasi instan. Makanan instan : mie, fastfood. Budaya masyarakat yang serba instan: mengklik di kamar, pesanan datang. dan seterusnya, sebuah budaya baru yang akan menjadikan manusia semakin tergantung kepada teknologi. Sehingga diawal tahun 2017 ini, kita semua hanya bisa berharap munculnya keseimbangan antara perilaku hidup dan ketersediaan teknologi. Asanya adalah anak-anak negeri berada di dalam penyedia teknologi, bukan sekedar konsumer terbesar teknologi (= penonton).